Dalam hidup, salah satu kebahagiaan terbesar adalah saat kita mampu membahagiakan orang lain. Bahkan, dalam Islam, menciptakan kebahagiaan...
Dalam hidup, salah satu kebahagiaan terbesar adalah saat kita mampu membahagiakan orang lain. Bahkan, dalam Islam, menciptakan kebahagiaan bagi sesama bukan hanya perbuatan mulia, tetapi juga dapat menjadi sebab diampuninya dosa.
Dalam kitab Qāmi‘uth Thughyan yang merupakan karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani. Kitab ini merupakan syarah dari syair nadzom Syu'bul Iman karya Syekh Zainuddin bin Ali bin Ahmad Syafi'i al-Kusyini al-Malibari. Diceritakan tentang seorang yang berlumur dosa, tetapi Allah melebur dosa-dosanya. Rasulullah ﷺ pun bertanya kepada malaikat Jibril, "Apa yang menyebabkan Allah mengampuni dosa-dosa orang itu?"
Malaikat Jibril menjawab:
لَهُ صَبِيٌّ صَغِيْرٌ، فَاِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ يَسْتَقْبِلُهُ، فَيَدْفَعُ اِلَيْهِ شَيْئًا مِنَ الْمَأْكُوْلاَتِ أَوْ مَا يَفْرَحُ بِهِ، فَاِذَا فَرِحَ الصَّبِيُّ يَكُوْنُ كَفَّارَةً لِذُنُوْبِهِ
"Ia memiliki anak kecil. Ketika pulang dari bepergian, saat ia masuk ke rumahnya, sang anak menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Ia pun memberikan buah tangan kepada anaknya—baik berupa makanan atau sesuatu yang dapat membuatnya bahagia. Kebahagiaan anak inilah yang menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosanya."
Membahagiakan Orang Lain, Amal yang Dicintai Allah
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Thabrani)
Lebih dari itu, amal yang paling dicintai Allah setelah menjalankan kewajiban adalah menggembirakan sesama Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ بَعْدَ الفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى المُسْلِمِ
"Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah setelah menjalankan kewajiban adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang Muslim." (HR. Thabrani)
Menjadi Pribadi yang Melegakan dan Membahagiakan
Kita tidak perlu menunggu memiliki harta berlimpah untuk membahagiakan orang lain. Terkadang, sebuah senyuman, perhatian, atau sekadar mendengarkan dengan tulus sudah cukup untuk membuat hati orang lain lebih tenang.
Kisah dalam Qāmi‘uth Thughyan mengajarkan kepada kita bahwa sekecil apa pun kebaikan—bahkan sesederhana membawa buah tangan untuk anak—dapat menjadi sebab diampuninya dosa. Apalagi jika kita membiasakan diri untuk terus menebar manfaat dan kebahagiaan kepada keluarga, sahabat, dan masyarakat.
Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang tidak hanya baik bagi diri sendiri, tetapi juga melegakan dan membahagiakan orang-orang di sekitar kita.
- [accordion]
- Dukung Kami
- Ummi Shalehah berjalan atas kerja keras seluruh jejaring penulis dan editor. Jika kamu ingin agar kami bisa terus melahirkan catatan atau video yang mengedukasi publik dengan nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil Alamin, silakan sisihkan sedikit donasi untuk kelangsungan website ini. Tranfer Donasi mu di sini:
Paypal: hadissoft@gmail.com | atau BSI 7122653484 an. Saiful Hadi
COMMENTS